Sore itu ku lihat langit. Benar-benar indah langit sore itu. Terenyuh ketika ku tiba-tiba berfikir : "Sekarang, mencintaimu bagai menengadah ke atas langit.."
Leherku sakit, tanganku tak bisa menggapai, tapi kau benar-benar terlihat dan indah.
Sayangnya, aku mencintai langit, dan langit tak akan pernah mencintaiku.
"Kenapa?", ku tanya dalam hati.
Bisikan angin mengatakan, bahwa aku tak bisa memilikimu, karena aku hanya bisa diam..diam..dan menggerutu hingga diam kembali.
Ku fikir, itu benar-benar menyedihkan, tapi aku masih bisa tersenyum hingga hari ini, dan masih bisa tersenyum ketika melihat Langit ku bercumbu dengan Mataharinya.
Wah, indahnya kisah mereka, fikirku.
"Hei, Langitku. Apabila aku merindukanmu, harus apakah aku?", rintihku dalam hati.
Langit tak kunjung menjawab, aku masih saja menengadah keatas, leherku semakin sakit, mataku kian tak bisa melihat jelas, diam tanpa mengucapkan sepenggal kata, tapi hatiku kian merintih.
Entahlah, Tuhan! Aku sudah terlalu lama merasakan sakit hingga ke ubun-ubun karena mencintai Langit yang dulu menjadikanku Mataharinya.
Tuhan? Tak bisakah Kau menunjukkan Langit yang lain di hadapan mataku? Tak bisakah kau bisikan pada Langit itu bahwa ada yg lelah letih menunggunya menyadari kehadiranku? Aku malu, Ya Tuhan.
Dan malam. Kulihat banyak Bintang, melihatku, mencintaiku, mencoba mencuri pandanganku, karena aku menengadah ke atas langit lagi hingga Langitku muncul lagi pada sore hari.
Padahal ku tau, sore SUDAH BERLALU.
Haruskah ku balas tatapan Bintang itu, Ya Tuhan?
Mereka jelas lebih indah, tetapi mengapa hatiku masih menginginkan Langit yg tak pernah melihatku itu?
Aku malu, Ya Tuhan!
Bahkan untuk kebahagiaanku, aku tak bisa memilih.
Bintang kian mencuri perhatianku. Hanya mencurikah? Aku tau, mencintai Bintang tak ubah seperti mencintai Langitku. Jauh...kian jauh...semakin jauh.
Ah, Persetan dengan mencintai Langit! Persetan dengan para Bintang! Persetan dengan Cinta!
Dan akhirnya, aku bersembunyi lagi di wahana yang kian membuatku damai, tanpa melihat Langit, walaupun ku tunggu, dan hanya ada Bintang yang selalu melihatku dari kejauhan.
NB: Kalo gak ngerti maksud di atas, di pahami sedikit demi sedikit deh yak. Aku gak begitu pinter buat "pengandaian" uyeaaah~ -_-
nantikan "Hujan yang Tertunda" ^^
No comments:
Post a Comment