Friday, April 6, 2012

Hujan Yang Tertunda (Part 1)

"Sial! Ah kok hujan lagi?", gerutuku pagi ini. Tak lama kemudian, HP ku berdering tanda seseorang meneleponku.
"Ah, Ricky nelpon! Ada angin apa ya?",ku berbicara sendiri karena girangnya. Setelah itu, aku pun mengangkat telepon dari pujaan hatiku itu. Selang setengah jam kemudian, dan pembicaraan singkat itu selesai, aku pun berkemas diri, karena Ricky, pujaan hatiku mengajakku pergi jalan-jalan di sekitar taman, sore ini. "Semoga nanti sore tidak hujan!", pintaku dalam hati dengan penuh harapan dan senyum tipis. Aku memilih baju terindahku untuk pergi bersamanya nanti, dress ungu terang yang sangat bagus menurutku. Aku pun belajar berdandan sendiri, karena selama ini, ibuku lah yang selalu mendadaniku. Ini hari libur, tapi tak seorangpun berda di rumah, Ibuku dan Ayahku pergi ke Amerika untuk waktu yang cukup lama, 6 bulan. Kakak laki-lakiku, Rian, lebih suka berkumpul dengan teman-teman club Skateboard nya. Ah terkadang, dunia yang begitu banyak penghuninya, tetap saja sepi buatku. Bahkan dirumah yang sebesar ini, aku hanya sendiri? Aku? Seorang mahasiswi di salah satu Universitas ternama di Jogjakarta, yang hanya mempunyai beberapa teman dekat, dan selalu merasa kesepian ini bagaikan bunga indah diantara tumpukan batu-batu kering di pinggir jalan raya. Tapi, untungnya hadirnya Ricky, kakak seniorku di kampus berhasil menyedot pikiranku setiap harinya. Kami berdua mulai dekat, sejak masa orientasi kampus, 3 bulan yang lalu. Bagiku, dia menyebalkan kala itu, tapi mengapa sekarang menjadi pusat perhatianku setiap hari? Waktu itu, ketika hari kedua masa orientasi kampus, aku yang tidak begitu mengenal titik-titik pos tempat kami harus berhenti, tiba-tiba seorang Ricky yang sebelumnya kejam dan menakutkan, bisa menjadi ramah dan baik hati ketika melihatku kesusahan. Padahal, semua teman-teman yang ku kenal pada masa orientasi kampus bilang, kalau Ricky, ketua panitia masa orientasi kampus tahun ini adalah seorang laki-laki yang terlalu tegas, hingga semua bawahannya terlalu segan, tapi dialah yang pantas dikatakan sebagai sosok pemimpin. Ah persetan dengan kalian katakan padaku, aku tetap saja tak suka padanya, dia terlalu kejam, tidak akan merubah pikiranku terhadapnya walaupun dia pernah berbuat yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya, yaaa yang bersikap baik itu.
Tapi, sekarang? Dialah yang mengisi hari-hariku. Dialah yang selalu membuatku tersenyum, dan setiap hari, hanya dialah yang ku fikirkan. Tak pernah ku sadari mengapa orang yang begitu ku benci, sekarang menjadi orang yang sangat aku kagumi, dan apakah dia juga mengagumiku, seperti aku menganguminya?

---------------------------------------