Monday, March 12, 2012

Lagi dan lagi, hatiku berceloteh, Saudara.

Sudah larut malam di sekitar gubuk ku ini. Kini rindu pun kian menggigit sendi-sendi hatiku. Dimana dingin malam pun kian mengoyak ingatan ku yang lalu. Tuhan, memori itu singgah kembali!
Ku ingat bagaimana kau membuatku tertawa lepas kala itu. Ku ingat bagaimana mengalir derasnya kasih sayangmu terhadapku. Ku ingat bagaimana usaha kerasmu hanya untuk menerbitkan secuil senyuman di bibir ini. Ya! Aku ingat semuanya. Tahukah kau, semua ini sedikit menyiksaku? Tidak secara fisik memang, tapi bathin, saudara. Sering ku berbisik di larut malam, berharap kau menggubris celoteh kecil ku itu. Ah ya! Aku siapamu? Dan kau siapaku? Dia siapa kita? Apa? Kita? Hh! Tidak pernah ada kita.
Ya benar! Ku fikir, akan ada kata "Kita" diantara kau dan aku. Semua membuyar konsentrasi ku, ketika ku mencoba melangkah lebih dekat kepadamu. Siapa wanita itu? Aku kenal dia, ku rasa. Ah benar! Aku mengenali dia. Tersenyum sombong melihatku dengan gaun indah dan senyuman yang mencuri hati setiap yang melihatnya. Sedang aku? Aku tidak ada apa-apanya. Aku bukan siapa-siapa. Yang ku punya hanya kekurangan dan kelebihan kasih sayang yang hingga kini masih kucurahkan kepadamu. Aku salah? Salahkah aku, saudara?
Kesalahan pertamaku adalah membiarkanmu mengenaliku. Kesalahan kedua dan terakhirku adalah pernah mencintaimu.

Hei Saudara!
Bahagiakah kau dengannya, apabila suatu saat nanti kalian akan bersama? Ku harap tidak, karena aku mempunyai ketulusan yang lebih tulus dari semua yang tulus terhadapmu. Hh! Ku rasa aku sudah melangkahi Tuhan hanya karena mencintai seseorang yang hanya bisa menyeretku jauh ke dalam lubang gelap tanpa harapan.
Ku rasa dan ku rasa, hanya mata dan hatilah yang patut aku perjuangkan agar tidak lemah nantinya melihat kalian akan bersama. Aku bisa! Aku pasti bisa! Rasa ini akan lama hilang, tetapi pasti akan hilang. Setidaknya, aku telah banyak belajar tentang bagaimana roda kehidupan bersamamu.

Waktu itu kejam ku rasa. Dia membiarkanku mengenalimu, menyayangimu, mengharapkanmu, merindukanmu, dan bahkan sangat mencintaimu, Saudara. Kini, tak akan ada senyum seperti dulu. Yang sempat hilang tapi kau bawa kembali...kala itu.
Waktu, waktu dan waktu!! Tidakkah kau berfikir, kejamnya dirimu?? Atau apa rencanamu dibalik ini semua, Hei Waktu???!!
Lelah aku mencari, mencari yang tak akan ada kepastiannya.
Aku menyerah atas nama cinta. Aku menyerah atas kekhilafan karena mencintaimu. Aku menyerah atas nama cintaku yg lebih besar kepada Allah, bukan dirimu.
Kuyakin, suatu saat nanti, kembalilah hal ini mengisi relung hari-harimu. Agar kau tau, dan kau memang harus tau, apa, dimana, siapa, bagaimana seseorang yg pernah kau sakiti tanpa kau siksa fisiknya.

Dan mataku kian berat, ku fikir inilah saat yang tepat untuk menarik selimut dan menikmati peraduan nyaman didalam gubukku ini. Terselip doa selalu untukmu, Saudara. Agar kau merasa nyaman bagaimanapun keadaanmu kala ini. Hei, dengar aku! Aku mencintaimu.........hanya untuk beberapa saat lagi. Aku sangat harapkan itu. Amiin.



"Tuhan, peliharalah dia dalam ayunan malammu. Jagalah dia. Jika Kau berkenan, pertemukan kami di alam bawah sadar. Jika Kau berkenan, aku hanya ingin...... Maaf! Aku lancang ya Tuhan, semua terserah pada-MU"